Tampilkan postingan dengan label Peculiar moments at home. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peculiar moments at home. Tampilkan semua postingan

11/08/14

Dear si Pedagang

Beberapa hari yang lalu, kakakku yang tinggal di daerah serpong datang berkunjung ke rumah. Agendanya sih untuk silaturahmi, menjaga kekerabatan keluarga besar kami, soalnya aku tinggal bersama Tulangku (sebutan untuk Paman dalam penuturan Batak) dan kebetulan hari itu juga ada saudara dari Riau yang datang ke rumah. Jadi waktu itu luyaman rame di rumah.

Dalam kunjungan itu, kakakku datang bersama suaminya dan 2 orang putranya, Dear (9 tahun) dan Gavriel (1 tahun). Dear adalah anak yang paling pinter, lucu, menggemaskan dan licik yang pernah aku kenal. Walaupun masih kelas 2 SD, tapi sudah banyak ulahnya yang bikin aku geleng-geleng kepala. Setiap hari ada saja kisah yang dia ceritakan setiap bertemu denganku, mulai dari cerita usil, bandel, menggemaskan sampai ke cerita tentang perjalanan asmaranya dengan teman sekelasnya.

WHAT?? CERITA ASMARA??

Bener loh. Dia udah mulai naksir-naksir gitu sama temen sekelasnya yang lumayan cakep. Memang sih, pengenalan akan asmara pada usia dini itu penting, tapi mbok ya pengertian dong sama aku yang sampai sekarang masih fakir cerita asmara.

*garuk-garuk aspal*

Pokoknya ada aja deh cerita baru kalau dia datang. Nah, kemaren sewaktu mereka berkunjung kerumah, dia langsung menghampiriku dan berkata “Tulang mau warna apa?”

Aku yang tidak tau sebab-musabab dari pertanyaannya hanya bisa bengong dan terdiam.

“Apanya yang berwarna?” tanyaku sambil mengelus-elus kepala keponakanku yang lucu itu. Berharap ada cerita baru dari setiap warna yang akan aku pilih nanti.

“Ini loh..” katanya sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, “Dear bawa gelang untuk Tulang, ada beberapa warna. Tulang mau warna apa?”

Aku melihat dia mengeluarkan beberapa gelang karet dari sakunya. Ada yang berwarna merah, biru, hitam, kuning dan beberapa warna lagi. Aku heran, gelang sebanyak itu kok bisa muat ya di dalam saku celana sekecil itu?

Aku mengamati sebentar tumpukan gelang dikedua telapak tangannya, kemudian memilih satu gelang yang bertuliskan ‘Indonesia Diselamatkan’.

“Tulang pilih yang warna merah.”

Dia lalu memberikan gelang berwarna merah kepadaku dan langsung aku pakai di lengan sebelah kiri, berhimpitan dengan jam tanganku.



“Terimakasih yaaa” ujarku bangga dengan kebaikan hatinya.

Gimana gak bangga cobak, setelah sebulan tidak saling bertemu, dia ternyata tetap mengingat aku. Apalagi, dia sudah bersusah payah menyediakan ‘kado’ untukku, sebuah gelang yang warnanya aku pilih sendiri. Yah walaupun kelihatannya sepele, tapi niatnya itu loh. Siapa cobak yang tidak bangga dapat pemberian dari keponakannya?

Setelah aku selesai memakai gelang berwarna merah itu, dia langsung berkata, “harga gelangnya 10000, ya Tulang. Barang yang sudah dipakai tidak boleh dikembalikan!”

WHAAATTT???

Aku hanya bisa bengong (lagi) dan merasa tertipu. Halaahh..

Dia yang awalnya tersenyum manis dan menyapa dengan riang berubah menjadi penjual gelang kejam. Rupanya keriangannya itu untuk dilakukan untuk menutupi niat jahatnya yang tersembunyi.

AKU INI KORBAN!!

Tapi bener ya, aku yang awalnya bangga dikasih gelang, langsung merasa dikhianati. Dikhianat oleh anak unyu berumur 9 tahun.

DASAR ANAK LICIK!!

Aku langsung protes ke mamanya mengenai perihal tersebut. Mamanya yang memang sudah terbiasa dengan ulah anaknya, hanya bisa terkekeh sambil mengangguk maklum. Dari penuturannya, aku mendapat informasi bahwa belakangan ini Dear lagi gencar-gencarnya melakukan usaha dagang, dan gelang yang (secara tidak sengaja) aku beli tadi adalah salah satu dagangannya.

“Dear bilang dia gak mau terus-terusan minta uang ke mama. Dia mau menghasilkan uang sendiri untuk ditabung dan membeli piano” kakakku menjelaskan.

Kakakku lalu menambahkan bahwa dia juga cukup pusing dalam menghadapi ulah Dear belakangan ini. Karena usaha dagangnya, Dear menempelkan kertas di depan pintu rumah yang bertuliskan, “Dicari seorang partner berumur 8-12 tahun untuk menjual gelang dan lukisan”.

Selain itu, dia juga membuat daftar harga dari dagangannya yang digantungkan di ranting pohon kecil yang tumbuh dihalaman rumah mereka di Serpong.

Isinya lumayan lucu, seperti ini:
Dijual lukisan.
Harga teman: 500
Harga kenalan: 800
Harga sahabat: 300
Harga tetangga: 500

Lukisan yang dimaksud disini adalah hasil gambar Dear diatas buku gambar kecil, yang dihias sedemikian rupa sehingga kelihatan agak menarik.

Gila banget kan??

Setiap sore sepulang sekolah, dia akan mengambil ‘lukisan’ yang dia buat, membawanya keliling kompleks dengan menggunakan sepeda dan menjualnya kepada anak-anak kompleks yang dia temui.

Kata kakakku, minggu lalu dia mendapat keuntungan beberapa puluh ribu dari hasil jualan ‘lukisan’nya.

Mendengar penuturan kakakku mengenai bisnis gelang dan lukisan yang dilakoni keponakanku itu, aku langsung tersetuh. Ternyata selain licik, Dear juga kreatif, pekerja keras dan mandiri. Dia pinter dalam hal yang aku tidak pinter sewaktu kecil dulu. Aku bahkan tidak kepikiran bahwa dia bisa berbuat hal sehebat itu dalam usia yang sangan muda.

Atas dasar kekagumanku terhadap Dear, akhirnya aku membayar gelang yang terpaksa aku beli tadi sejumlah 50000. Itung-itung sebagai bantuan modal untuk melakukan ekspansi bisnis kedepannya.

Hahaha..

I’m pround of you, Dear.




29/05/14

Tolong buka Waslap-nya

Pada suatu petang yang indah di rumah...

Duduklah aku dan Tulangku di ruang tengah, sedang mengutuk kedua tipi kami yang meletup dalam waktu bersamaan sehingga kami tidak bisa menonton. Sedang asik-asiknya membaca, Tulangku memanggilku.

"Tolong buka dulu Waslap-nya hape ini" ujar Tulangkiu sambil menyodorkan hapenya ke arahku.

Aku bengong, tidak mengerti apa yang dimaksud. "Apa, Lang?" tanyaku memastikan.

"Waslap.. Waslap.." ulangnya dengan suara kencang.

"Apa Waslap, Lang?" tanyaku masih tidak tau.

"Ini loh, yang warna hijau ini" katanya sambil menunjuk sebuah icon berwarna hijau di hapenya.

Akupun melihat icon yang ditunjuk olehnya. "Oh, itu namanya Whatsapp, Lang. Bukan Waslap" kataku mengoreksi.

Bukannya bilang terimakasih karena sudah aku koreksi, Tulangku malah bilang, "Sama aja lah itu. Itu aja pun kau gak tau. Bodoh kali!"

I was like, "What the hell?!"

19/05/14

orang baik

Menurut gue, Tulang dan Nantulang gue itu orang yang sangat tidak considerate. Entah apa pun arti dari kata considerate itu sendiri, gue gak tau. Gue hanya pakai kata itu karena kedengaran sophisticated di telinga gue. Apa lagi itu sophisticated?

Pokoknya Tulang dan Nantulang gue jenis orang yang kadang terasa sangat nyebelin. Mereka itu control freak yang kadang suka memaksakan kehendak tanpa menanyakan opini orang lain. Kalau Nantulang gue udah ngomong tentang satu hal, dia akan terus mengulanginya sampai orang yang dimaksud pingsan atau kejang-kejang dilantai dengan  mulut berbusa. Kalau Tulang gue beda lagi, dia mau semua hal yang ada di rumah sesuai dengan kehendaknya. Contohnya, kalau nyalain air kran harus kecil, biar kotorannya gak ikut turun ke bak mandi. Kalau nyetrika pakaian jangan satu satu, listriknya mahal. Kalau boker pagi aja, sekalian mandi, biar jangan ngabisin banyak air. Pokoknya gitu deh, nyebelin.

Beberapa hari yang lalu, waktu gue pulang gue baru pulang kerja, hanya ada  sepupu gue dirumah. Tulang gue lagi jemput Nantulang gue pulang kerja, mungkin 10-30 menit lagi bakal sampai dirumah. Karena gue pulang cepat hari itu, gue ajak sepupu gue main PS seperti biasa. Sembari dia nyiapin PS dan perkakasnya, gue pergi mandi. Waktu gue selesai mandi, ternyata Tulang dan Nantulang gue udah pada pulang.

Gue langsung masuk kamar, cek hape, maen twitter dan ngeringin rambut sebentar semelum maen PS. Gaya banget deh pokoknya. Sementara itu Nantulang gue langsung pergi menuju dapur, kayaknya dia mau masak. Gue cuek, seperti biasa. Waktu gue ke ruang tengah, sepupu gue udah siap tempur maen PS. Gue juga udah siap.

Pokoknya maen PS.

Waktu gue baru pegang stick PS, tiba-tiba Nantulang gue manggil dari dapur.

“Woi, bisa minta tolong gak?”

“Ngapain, Lang?” jawab gue tanpa semangat.

“Ini. Nantulang mau masak spaghetti. Tolong irisin bawang, cabe ama daun bawangnya ya.” Katanya santai, padahal gue lagi gak pengin diganggu. Hanya pengin maen PS aja, walaupun kalah mulu kalau tanding ama sepupu gue.

“Sekarang, Lang? Mau maen PS dulu nih.” Gue nyahut berusaha nego.

“Eh, sekarang lah. Untuk makan malam kita ini.” Dia menjawab sambil mengatakan hal yang tidak bisa dibantah lagi.

Dengan langkah gontai gue pergi menuju dapur dan mulai mengiris bawang. Karena memang gak bisa mengelak lagi, gue pun ngiris bawang dengan setengah hati. Sambil ngiris bawang, gue ngebayangin tanding maen Naruto bareng sepupu gue. Gue maen pake Kimimaro, sepupu gue pake Kakashi. Walaupun gue udah bisa menang lawan Com dalam mode ultimate, tapi gue tetep kalah ama sepupu gue. Dia emang kampret.

Melihat muka gue yang kusut, Nantulang gue bilang “Masak itu yang lama hanya pada waktu mempersiapkan bahannya. Nanti kalau semua bahannya udah siap, masaknya mah cepat. Makannya lebih cepat lagi.”

Entah udah berapa kali gue dengerin kalimat itu keluar dari mulut Nantulang gue. Setiap kali dia minta tolong dalam hal memasak, pasti dia ngomong itu.

Semalam juga. Lagi-lagi waktu gue mau maen PS ama sepupu gue, nantulang gue nyuruh gue menghaluskan bumbu masakan. Dan disela-sela kegiatan itu, Nantulang gue bilang, “Masak itu yang lama hanya pada waktu mempersiapkan bahannya. Nanti kalau semua bahannya udah siap, masaknya mah cepat. Makan masakannya lebih cepat lagi.”

Gue sampe hapal mati sama kalimat itu. Dankarena itulah gue bilang mereka nyebelin.

Tapi kadang, Tulang dan Nantulang gue bisa berubah menjadi orang yang sangat baik.

Beberapa hari ini hujan turun terus setiap pagi. Gue yang biasanya pergi ke kantor dengan menggunakan transportasi umum (angkot, ojek dan bus) merasa kesulitan untuk sampai ke kentor tanpa kebasahan. Payung is a big NO.  Jas hujan apalagi. Topi hanya membantu sedikit, sementara jaket dan sweater hanya bisa menghangatkan badan.

Intinya, gue dalam masalah.

Jadi atas dasar kebaikan Tulang gue, tiap pagi kalau hujan turun, atau kalau gerimis turun, Tulang gue pasti nganterin gue naik mobil sampai ke pintu tol, tempat gue dan Nantulang gue ngambil bus ke kantor. Seperti kemaren, pagi-pagi udah gerimis. Gue udah siap-siap pake sweater dan topi untuk jalan ke depan kompleks dan naik angkot ke pintu tol. Tapi sebelum gue pergi, Tulang gue udah keluarin mobil untuk nganterin Nantulang gue. Jadi gue bisa nebeng sampai pintu tol tanpa kebasahan sedikitpun. 

Thanks, Tulang.

Sesampainya di tol, gerimis masih gencar turun. Nantulang gue, yang kebetulan kantornya lebih jauh dari gue, ngusulin untuk naik taksi ke kantor. Bus yang menuju kantor Nantulang gue emang hanya satu jenis dan selalu penuh. Sementara, kantor gue ada diantara pintu tol tempat kami ngambil bus dan kantor nantulang gue. Akhirnya gue dan Nantulang gue naik taksi ke kantor dan dibayarin ama Nantulang gue. Hurray. Gue bisa irit 15ribu hari ini. Buat beli Jus Jambu kayaknya enak tuh.

Hal lain. Sabtu lalu Nantulang gue dinas ke Bandung, pergi Jumat dan pulang Minggu. Praktis yang tinggal di rumah hanya 3 jagoan neon berjenis kelamin lelaki: gue, Tulang gue dan sepupu gue.  Biasanya setiap hari Sabtu pagi, kami sekeluarga makan Bubur Ayam langganan kami. Harganya murah dan rasanya enak banget. Karena udah jadi kebiasaan untuk makan Bubur Ayam setiap hari Sabtu pagi, Nantulang gue jarang masak makanan untuk hari itu. Biasanya dia untuk makan siang dan makan malam.

Tapi hari itu si Tukang Bubur langganan lagi pulang kampung, tanpa pemberitahuan sebelumnya. Itu pun ketahuan setelah Tulang gue telpon si Tukang Bubur (thanks to technology). Karena udah kelaparan, akhirnya Tulang gue langsung pasang ikat kepala dan mulai bergerilya di dapur. Gue yang waktu itu masih ngulet di kamar hanya bisa mendengar suara blender, suara panci dan suara-suara lain. Sekian menit kemudian, Tulang gue manggil gue dan bilang, “Bangun woi.. nasi gorengnya udah selesai. Buru makan, mumpung masih panas!”

Gue yang waktu itu hanya cuek-cuek aja langsung kaget waktu Tulang gue bilang nasi gorengnya udah selesai dimasak. Gue gak bisa bayangin Tulang gue masak pagi-pagi hanya untuk gue dan sepupu gue. Ini tuh beyond expectation. Gue tersentuh banget waktu itu. Gue pun bangun dan langsung makan nasi goreng itu bersama sama Tulang gue dan sepupu gue di ruang tengah. Kami makan dengan lahap sambil menyalahkan si Tukang Bubur yang kabur tanpa kabar.

Dan saat itu gue bilang, “Tulang gue bisa baik juga ternyata!”


19/02/14

Cara Hidup Sehat

Semenjak Tulang gue balik dari Semarang, bareng Nantulang gue dan sepupu gue yang baru bagi rapot kemaren, rumah kami jadi rame lagi. Kalau sebelumnya waktu gue tinggal sendiri di rumah suasananya seperti kuburan yang udah ditinggal para penghuninya, sekarang suasananya lebih hidup. Ada tawa terdengar di ruang tengah. Dan ada cinta yang gue rasakan~

Sekarang gue senang di rumah. Kerjaan gue sekarang maen PS ama sepupu gue. Dari pagi sampai malam, kami sibuk maen PS. Sebenarnya sih gue gak bisa banget maen PS, hanya bisa maen Naruto ama Basara, tapi sepupu gue nantangin gue maen bola. Ya udah, gue jabanin. 

Walaupun gue udah maen PS dari jaman SMP dulu, tapi yang gue tau dalam maen bola hanya mencet-mencet X + R1 untuk mendekatkan pemain gue kearah bola. Itu doang. Makanya waktu maen bareng sepupu gue, gue dengan bangga mengatakan kalau hasil akhir pertandingan itu adal ah 8-0. Tentu aja kebagian skor yang 0 (kosong). Tapi gue bangga, soalnya skor-nya gak sampai 10-0. Hehe

Selain tentang suasana ruang tengah yang menjadi rame, ada perbedaan mencolok lain yang terjadi belakangan ini. Perbedaan ini terjadi setelah sepupu gue datang beberapa hari yang lalu, dan terlalu signifikan untuk diacuhkan begitu saja.


Jadi gini. Semenjak gue Tinggal bertiga bareng Tulang dan Nantulang gue, mereka gak perlu susah-susah memikirkan untuk masak apa atau makan apa hari ini dan besok. Belanja juga asal-asalan. Masak lauk juga yang di goreng doang. Alesannya? Biar tahan lama dan gak cepat basi. Padahal kan mereka tau gue gak suka makanan yang gak dibumbui. Tiap kali gue buka lemari makanan, yang ada hanya ikan goreng. Tiap kali gue buka kulkas, yang ada hanya cabe merah ama asam jeruk.

Efeknya: gue jadi sering makan diluar.
After-efeknya: duit gue habis.

Tapi setelah sepupu gue datang, dapur kami juga jadi lebih berwarna. Kemaren gue buka lemari makan, ada pindang patin. Trus gue iseng buka kulkas, ternyata ada banyak buah. Ada pepaya yang udah dikupas. Ada rambutan yang udah dikupas juga. Ada banyak lah. Kemaren waktu gue sendiri, boro-boro ada papaya, tomat busuk aja kagak ada sisa. Sedih banget deh!!

“Wah, tumben ada buah di kulkas, Lang?!”

“Iya, biar sehat kita!” katanya.

Oke. Gerakan “Kita Sehat” ini entah kenapa harus digalakkan semenjak sepupu gue datang. Emang dari kemaren gak perlu sehat ya? Gue kesel dong. Tapi gak masalah, yang penting sekarang gue bisa makan buah lagi.

Ternyata gerakan “Kita Sehat” ini tidak berlaku bagi sepupu gue. Dia bisa main PS dari pagi sampai pagi lagi, tanpa break untuk makan atau pup. Sampai-sampai Tulang gue sering ngomelin dia, nyuruh berhenti.

Kemaren contohnya. Pulang kerja gue langsung mandi + makan. Setelah itu gue tanding maen PS lagi ama sepupu gue. Menjelang jam 10, Tulang dan Nantulang gue pergi tidur, sementara gue sama sepupu gue lanjut tanding bola.

“Jangan tidur malam-malam ya!” Kata Tulang gue. Mungkin maksudnya jangan tidur terlalu larut kali ya, tapi pakai bahasa yang aneh. Kalau dia bilang jangan tidur malam-malam, maksudnya disuruh tidur subuh gitu ya? Parah!!

“OKE, Lang” jawab gue sambil tetap mencet-mencet stick PS.

Menjelang jam 11, gue pun berangkat tidur, tapi sepupu gue masih ngelanjutin maen PS. “Tanggung”. Gitu katanya waktu aku suruh dia tidur juga. Ya udah, nanti juga dia tidur sendiri, kata gue dalam hati. Oh iya, gue tidur sekamar bareng sepupu gue.

Sekitar jam 2 subuh gue terbangun. Gue lihat disamping gue, tapi gak ada sepupu gue. Apa dia masih main PS ya? Memang sih, suara TVnya dimatiin, takut Tulang gue bangun lalu sewot nyuruh tidur. Gue pun tidur lagi dengan anggapan pasti bentar lagi sepupu gue ngantuk, lalu tidur.

Alarm di handphone gue bunyi. Artinya sekarang udah jam 4.45 pagi. Gue lihat ke samping gue, sepupu gue belon tidur juga. Gilak.

Gue keluar kamar menuju ruang tengah. Gue lihat sepupu gue masih maen PS, kantung matanya makin gede. Dia senyum liatin gue sambil bilang “Pagi, bang!”

Pagi palalu peang!

“Lu gak tidur?’ tanya gue.

“Lupa bang. Keenakan main sih!” Jawabnya santai.

Untung Tulang gue belon bangun, jadi dia gak diomelin.

Ya udah, gue biarin dia maen lagi. Gue keluar rumah untuk jogging di kompleks depan. 30 menit kemudian, waktu gue lagi istirahat habis jogging di ruang tengah, Tulang gue bangun. Dia lihat gue keringetan habis jogging. Dia juga lihat sepupu gue main PS. Terus dia ngomong, “Nah, gitu dong. Bangunnya pagi. Kan sehat Tapi gitu bangun jangan langsung main PS. Ikut olahraga gih sama abang.”

Gue dan sepupu gue pandang-pandangan. Setelah itu sepupu gue diam aja sambil terusin main. Sementara gue hanya bisa tersenyum kecil. Ternyata Tulang gue gak tau kalau sepupu gue belum tidur dari selamam. Dia pikir, sepupu gue bangun pagi sama seperti gue. Dasar orang tua!!

Dengerin Tulang gue muji-muji sepupu gue, gue pun langsung ambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Mending mandi daripada dengerin Tulang gue bicara hal yang dia gak tau. Mihihi

--

Lang, gue kasih tau satu rahasia ya. Kalau anak sekolahan bangun pagi di hari libur sekolah, itu tandanya dia belum tdur semalaman. Jangan dianggap dia bangun pagi karena pengen olahraga. Salah besar!

06/12/13

perangkap tikus

Udah beberapa hari ini Tulang gue pergi ke Semarang… lagi. Sepupu gue bagi rapor, jadi sebagai orang tua yang baik, Tulang gue harus datang ke sekolahnya. Nantulang gue juga ikut. Kalau dalam hal jalan-jalan, Nantulang gue gak pernah ketinggalan. Dari kemaren dia bilang pengen jalan kesana dan kemari, tapi gak pernah jadi. Nah, sekarang dia ikut ke Semarang bareng Tulang gue, otomatis gue jadi dirumah sendiri. Home alone ceritanya. 

Sebelum mereka pergi, banyak banget peraturan mengenai merawat rumah yang harus gue ketahui. Dari mulai halaman depan, kamar, ruang tamu dan dapur semuanya harus dirawat dan dijaga. Tentang menyapu dan mengepel rumah, menyirami tanaman, menggunakan kompor dan tentang menyalakan air kran, semuanya didikte dari A sampai Z oleh Tulang gue. Gue menyebutnya “The Rule of Damnation”, soalnya benar-benar bikin pusing.

Sebenarnya sih gue gak ambil pusing tentang semua rule itu. Soalnya secara umum, gue udah tau tentang bagaimana cara merawat rumah. Secara dulu gue dikampung sering ditinggal dirumah sendiri sama keluarga gue. Gue juga udah lulus ngekos selama 4 tahun di Bandung. Well, walau kosan gue kayak kapal pecah juga sih.

Kadang kalau gue lagi rajin, gue nyapu dan ngepel rumah. Nyuci piring dan nyiram tanaman. Tapi gue lebih sering males. Pulang kerja masukin motor ke dalam rumah, mandi, gembok pagar, nyalain lampu teras, matiin lampu rumah, langsung tidur. Begitu terus beberapa hari. Sampai pada saat sehari sebelum Tulang gue balik, gue periksa ke dapur, ternyata semua piring bekas makan gue udah mengeluarkan bau bau yang tidak enak. Nasi di rice cooker udah menjadi kerak semua. Lauk di lemari makan udah busuk, tak layak lagi untuk dipandang. Dapur gue seperti tempat tinggal zombie.

Shit!! Kata gue dalam hati. Pasti Tulang gue bakal ngamuk ini.

Gue langsung beberes. Gue bersihkan semua piring kotor dan pernak perniknya. Nasi yang udah sekeras batu itu gue buang ke tempat sampah. Lauk yang tidak berbentuk itu pun gue lemparkan ke tong sampah tetangga, soalnya baunya udah gak nahan. Gue juga masih sempat ngepel dapur. Pokoknya dapur gue sampai kinclong.

Aman deh.

Selama Tulang gue pergi, emang rumah ini jadi sepi banget. Kalau biasanya dia ada, kami selalu rebutan remote TV, walaupun ujung-ujungnya selalu acara kesukannya yang ditonton. Biasanya dia selalu ngomong tiba-tiba sambil nanya hal yang gak penting, dan gue gak nanggepin, hanya maenan hape. Biasanya dia selalu ngomel karena air PAM keruh atau karena Presiden SBY mau naikin BBM. Pokoknya biasanya rumah selalu rame. Gue jadi rindu ama suasana itu, tapi gak ada niat buat nelepon mereka.

Sampai suatu malam, waktu gue lagi baca buku di dalam kamar dan siap untuk tidur, hape gue berdering. Biasanya nyokap gue telepon jam segini, ngingetin untuk tidur cepat, biar besok pagi gak telat kerja. Tapi ternyata yang telepon Tulang gue. Wah, tumben nih, pikir gue. Apakah dia kangen ama gue?

“Halo. Ada apa, Lang?”

“Halo. Dimana kau?” terdengar logat Batak yang kental dari seberang telepon.

“Di rumah, Lang. Udah mau tidur ini” jawab gue sedikit mengantuk.

“Jangan lupa rumah diberesin ya. Di dapur banyak makanan. Dihabisin. Jangan sampai busuk!” katanya mengingatkan.

Gue langsung teringat lauk yang udah terbang ke tong sampah tetangga sebelah dan nasi yang udah sekeras batu. “Udah habis makanannya, Lang” gue bilang tanpa menjelaskan bagaimana proses sampai makanan tersebut ‘habis’.

“Oh, baguslah. Kalau gak ada lagi makananmu, ada abon di lemari. Buka aja. Atau beli nasi goreng di depan.”

“Siap, Lang.”

Dia pun menanyakan kondisi rumah yang ditinggalkannya, semua ditanya dari teras sampai dapur. Semua pertanyaan dia gue kasih satu jawaban aja: aman, Lang!!

“Sama satu lagi” katanya melanjutkan. “Di teras ada perangkap tikus. Periksa ya!”

“Okeh, Lang.”

Lalu gue menutup telepon.

Gue sih jawabnya oke. Tapi gue udah terlalu malas untuk ke teras depan dan  meriksa perangkap tikus itu. Besok aja gue lihatnya, itu pun kalau ingat. Biasanya juga dipasang perangkap tikus, tapi gak pernah dapet. Tikus-tikus disini udah terlalu pintar untuk masuk kedalam perangkap yang ada ikan asin didalamnya. Atau begitu pikiran gue…

Besoknya Tulang gue balik. Untungnya gue udah sempat bersih-bersih rumah, jadi setidaknya dia gue gak perlu dengar omelannya yang berkepanjangan. Hanya kamar dia aja yang belum gue bersihin, walaupun udah gue pel 2 hari sebelumnya. Memang dia biasanya gitu, kalau ada apa-apa yang gak sreg ama dia, pasti ngomelnya panjaaaang banget. Gue aja dengarnya sebel.

Nah, kali ini gue ngarepin dia gak ngomel.

Waktu gue bantuin angkatin barangnya dari depan masuk ke rumah, gue nyium bau yang kurang enak. Apa ini bau ketek Tulang gue ya? Emang sih, dia yang biasanya ke Semarang naik mobil, kali ini lebih memilih naik KA, dengan alesan mobil belum di servis jadi gak aman buat dipakai untuk jarak jauh. Gue deketin dia untuk memastikan sumber bau yang tidak enak itu. Ah, dia gak bau kok.

Apa barang-barang yang dia bawa? Dia sering bawa barang-barang gak jelas gitu kalau bepergian. Pernah sekali dia bawa ikan Nila hidup segede lengan orang dewasa waktu pulang dari Bogor. Ikan itu berdarah-darah. Dan walaupun masih hidup, tapi bau amis yang dihasilkan sangat menyengat. Katanya, jarang-jarang ada ikan segede gini dijual hidup, akhirnya dia beli dan bawa pulang ke rumah.

Gue ciumin satu persatu barang yang dibawa Tulang gue, tapi semuanya gak bau. Sampai Tulang gue heran lihat gue yang cium sana cium sini. Ah, mungkin hidungku lagi salah. Atau karena gue belum mandi kali?

Sampai pada waktu Tulangku masuk kamarnya, dia teriak “BAU APA INI?? ADA TIKUS MATI YAAA???”

Mati gue. Jangan-jangan, ada tikus yang kena perangkap yang dipasang Tulang gue seminggu lalu?

Kamar Tulang gue terletak di dekat pintu masuk, dan jendelanya langsung bertepatan dengan teras tempat dimana. Jadi kalau beneran ada tikus mati di perangkap tikus yang dipasang Tulang gue, otomatis baunya akan masuk ke dalam kamar Tulang gue.

Gue buru-buru ke teras dan langsung menuju tempat perangkap tikus itu dipasang. Dan benar aja, seekor tikus lumayan gede sudah membusuk di dalam perangkap itu dan lalat-lalat hijau beterbangan di sekitarnya. Gue aja mau muntah nyiumnya.

Tulang gue datang di belakang gue. “Ini yang kau bilang OK waktu Tulang suruh kau periksa perangkap tikus itu, HAH?” Tulang gue ngamuk. “Udah berapa hari tikus ini mati, kenapa gak kau buang bangkainya?”

Selama sejam Tulang gue ngomel tentang perangkap, tikus, dan bau. Dan gue hanya bisa duduk diam di ruang tamu sambil lihat Tulang gue semprot-semprot pewangi ruangan ke kamarnya. Sial..

---

Untung kamar gue gak bau *smirk*

02/12/13

pakai hape di pesawat

Belakangan lagi hebih berita tentang seorang PNS yang memukul pramugari perihal menyalakan telepon genggam di dalam pesawat. Berita yang sangat menampar siapa aja yang berani membahayakan nyawa orang lain hanya karena kepetingan pribadi – dalam hal ini menggunakan handphone di dalam pesawat. 

Minggu kemaren Tulang gue ke Semarang lagi. Kali ini dia berangkat sendiri naik KA.  Ada acara acara 7 bulan kehamilan sepupu gua disana, yang notabene adalah keponakan Tulang gue. Sementara gue dan Nantulang gue tinggal di rumah, kesepian dan kelaparan.

Setelah beberapa hari hidup tanpa Tulang gue, akhirnya Tulang gue kembali ke rumah. Awalnya dia pengin naik KA juga, tapi karena beberapa hal, akhirnya dia kembali ke Jakarta dengan menggunakan pesawat.

Perlu diketahui bahwa kejadian ini berlangsung tidak begitu lama setelelah Tulang gue beli hape baru, yaitu Samsung Grand. Dan dia belum bisa mengoperasikan hape itu dengan baik. Bahkan untuk membuka SMS yang masuk pun dia belum paham. Saat itu dia hanya bisa menjawab panggilan dan membuat panggilan baru.

Setibanya Tulang gue di rumah, kami langsung heboh sambil melihat bawaannya yang banyak banget. Ada Bandeng Juwana, Bakpia yang-entah-dibeli-dimana, Tahu Baxo (literally), dan masih banyak makanan kecil lainnya.

Waktu gue lagi asik buka oleh-oleh yang dibawa, Tulang gue nyeletuk, “Gimana caranya mematikan hape ini ya?”

“Ya gampang, Lang. Tingal pencet tombol yang di sebelah kanan lama, trus pilih Matikan Daya”, kataku sambil mempraktekkan di hapenya.

“Oh. Tulang gak tau.” Katanya. “Tadi waktu mau Tulang matiin di pesawat, Tulang gak tau caranya. Jadinya Tulang biarin aja gitu.”

Gue langsung nerhenti ngulik oleh-oleh yang dibawa Tulang gue dan langsung mandang Tulang gue shock.

“Hah.. Tulang biarin hapenya nyala?”

 "Iya.” Jawabnya santai.

"Terus, Tulang gak diomelin ama pramugari?"

"Enggaklah, kan mereka gak tau."

Kayaknya sih bukan karena mereka gak tau, tapi karena mereka takut diomelin ama Tulang gue yang mukanya sangar kayak orang Batak. Eh, emang orang Batah ya. Hehe

“Terus, pesawatnya gak apa-apa kan, Lang?

Parah. Untung aja gak terjadi apa-apa. Padahal kan lagi heboh banget tentang kejadian kecelakaan yang diakibatkan sinyal hape dalam pesawat.

Seharusnya dia bisa minta tolong sama orang yang duduk disampingnya atau sama Flight Attendant. Ini malah diam aja. Padahal peraturan penerbangan di Indonesia dengan jelas menyatakan bahwa semua perangkat elektronik harus dimatikan selama penerbangan demi tidak terganggunya sistem navigasi pesawat.

Tulang gue memang gitu orangnya. Susah. Gak mau dianggap gaptek, padahal emang gaptek. Dan dia selalu menghindari kegiatan yang dapat membuatnya malu, ya seperti bertanya itu.

Akhirnya, gue tunjukin cara matiin hape yang baik dan benar ama dia. Gue juga kasih tau tentang fitur Flight Mode yang ada di hapenya, biar dia bisa tetap menggunakan hapenya untuk jeprat-jepret di dalam pesawat tanpa mengganggu suistem navigasi pesawat.

Mudah-mudahan kedepannya dia gak membahayakan nyawa orang lagi.

---

Mulai sekarang, harus hati-hati kalau naik pesawat bareng Tulang gue.

18/11/13

minta tolong

Kemaren waktu hape Tulang gue rusak, gue repot harus jadi operator telepon kalau anak-anak Tulang gue nelpon ke hape gue dan nyariin Tulang gue. Sekarang, setelah Tulang gue beli hape baru, ternyata gue lebih repot lagi. Apa pasal?  Soalnya, hapenya terlalu canggih untuk ukuran Tulang gue. 

Deep down in my heart, sebenarnya gue senang Tulang gue ganti hape. Bahkan gue bangga kalau dia punya hape lebih keren di banding punya gue. Karena gue bisa pinjem untuk maen game HD di hapenya. Walaupun sebenarnya  gue sebal juga kalau dia banyak nanya tentang hape barunya itu ama gue.

Tapi yang  paling menyebalkan adalah, sesaat setelah dia beli hape itu, dia minta tolong gue untuk memindahkan semua kontak dari hape yang lama ke hape yang baru.

Okelah. Gampang. Pikir gue. Karena gue pernah baca kalau kontak itu bisa dipindahkan melalui koneksi Bluetooth. Nanti gue tinggal select all > send via Bluetooth. Itu mah pekerjaan gampang. Gak nyampe semenit juga bakalan kelar dah.

Jadi waktu malam itu Tulang gue pergi Arisan Parsahutaon di blok sebelah, gue mulai beraksi. Jam baru menunjukkan pukul 7 malam. Gue tunda dulu makan malam gue demi memindahkan kontak di hape Tulang gue. Sekalian gue juga nungguin makanan dari arisan itu. Biasanya Tulang gue bawa paling tidak Lappet atau jajanan lain kalau dia pulang dari arisan.

Gue nyalain hape baru dia dan gue nyalain Bluetooth-nya. Gue juga nyalain Bluetooth hape tulang gue yang lama, lalu gue pair dengan hape yang baru. Setelah pairing selesai, gue langsung mulai mindahin kontak, seperti yang gue rencanain dari awal.

Gue buka kontak dan pilih select all. Setelah semua terpilih, gue buka menu untuk kirim via Bluetooth. Ternyata hape lama Tulang gue terlalu jadul, sehingga sewaktu select all contacts, gak ada pilihan send via Bluetooth. Damn!!

Gue unselect semua contact yang tadi, lalu gue coba kirim satu kontak paling atas via Bluetooth. Hasilnya, bisa! Kontaknya terkirim dengan sempurna. Kontak dari hape lama tersimpan dengan cantik di kontak hape baru. Bagus. Berarti memang bisa kirim kontak lewat bluetooth.

Gue coba kirim  2 kontak sekaligus. Gak bisa. Sial. Masa gue harus kirim satu satu?! Ada berapa kontak di hape jadul Tulang gue? Tar gue hitung dulu. Sekitar 300. Butuh berapa bulan ngirim kontaknya?

Tarik napas. Huft!!

Tapi mau bagaimana lagi. Gue udah keburu janji ama Tulang gue. Malahan tadi sebelum Tulang gue pergi arisan, gue sempat bilang, “Gampanglah kalau cuma mindahin kontak, Lang. Semenit juga selesai. Nanti waktu Tulang balik arisan, pokoknya kontaknya udah selesai dipindahin semua.” Takabur banget gue. Gue lupa kalau hape lama tulang gue itu dijual waktu jaman Dinosaurus masih pada bayi. Udah jadul banget.

Pilih kontak, pencet pilihan, pilih kirim, pilih via Bluetooth, pilih nama Bluetooth yang akan dikirimin kontak, buka hape yang baru, tekan ‘accept’, tunggu sampai proses pengiriman selesai. Itulah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengirim sebuah kontak. Dan gue harus mengulangi cara yang sama sebanyak 300 kali. Bahkan naik gunung tidak lebih capek daripada mengirim kontak ini. Bahkan menunggu pesawat delay tidak lebih membosankan dibandingkan dengan kegiatan ini.

Sekitar pukul 9 malam Tulang gue balik arisan. Sementara gue masih berkutat dengan hape super jadul dan hape canggih miliknya. Benar saja, dia bawa bungkusan yang berisi Lappet. Untung tadi gue belum makan.

“Gimana? Udah selesai dipindahin semua kontaknya?” tanya Tulang gue dengan santai.

“Belum, Lang. Masih sampai abjad S.” jawab gue masam.

“Lama kali? Kau bilang tadi hanya semenit. Sekarang udah 2 jam masih belum selesai juga?” Dia mulai ngomel.

“Iya, lang. Kirain tadi bisa kirim sekaligus. Tapi ternyata harus ngirim satu persatu.”

Gue mulai kesal.

“Heee.. dasar goblok. Itu aja gak bisa. Tadi diarisan teman Tulang bisa ngirim semua kontak sekaligus. Dia ngirim dari BB ke hape Samsung juga. Baru beli Samsung dia. Mirip kayak gini lah. Layar sentuh.”

“Kalau Samsung dimana-mana yah sama, Lang. Sama-sama bisa nerima kontak via Bluetooth. Tapi kan hape yang ngirim beda, Lang” jawab gue beralasan.

“Kalau sama-sama bisa Bluetooth pasti bisa ngirim kontak lah. Kau aja yang gak bisa make hapenya.” Kata Tulang gue tanpa tedeng aling-aling.

Gue langsung sebel.

Kalau dari BB sih kayaknya gue bisa ngirim semua kontaknya cepat. Tapi ini ngirimnya dari hape jadul, ya butuh waktu minimal seminggu lah. Gue bersungut-sungut dalem hati.

Satu jam kemudian, akhirnya gue selesai mengirim kontak dari hape jadul ke hape baru. Semua kontak yang sebelumnya ada di hape lama, kini terpampang manis di hape yang lebih canggih daripada pemiliknya.

Waktu gue kasih hape nya ke Tulang gue, dia senyum puas sambil mulai (belajar) mengoperasikan hape barunya. Sementara hapenya yang jadul, yang dulu sangat disayang-sayang ama dia, dibiarkan teronggok di atas meja.

---

Harus banyak bersabar menghadapi orang seperti Tulang gue *elus-elus dada*

PS:
Arisan Parasahutaon: literally arisan satu kampung; arisan yang dilakukan pada satu daerah (biasanya kompleks perumahan) yang terdiri dari orang Batak yang ada di daerah tersebut.
Lappet: Makanan khas Batak yang terbuat dari campuran kepala parut dan tepung beras yang dibungkus di dalam daun pisang berbentuk limas dan dikukus hingga matang.

13/11/13

hape yang lebih canggih daripada pemiliknya

Akhirnya Tulang gue beli hape baru juga. Awalnya gue diajak ikut nemenin beli hape ke Roxy, tapi karna gue lagi malas keluar rumah, gue nolak ajakannya. Lagian, dilihat dari perbincangan sebelumnya, sepertinya sudah pasti kalau dia akan membeli Nokia Lumia 720 atau 710. Pokoknya antara yang 2 itu lah.

Lalu Tulang gue pergi. Bareng Nantulang gue. Bedua. Sementara gue molor di rumah. Menikmati 'me time' yang jarang ada.

Udah sekitar 2 jam mereka pergi. Kirain udah selesai beli hape, gak taunya Tulang gue malah nelpon gue, nanya, “Kalau Samsung S3 mini bagus gak?”.

Gue bingung. Ngapain nanya Samsung? Bukannya mau beli Nokia Lumia?

Dari telpon, gue tau kalau ternyata Nokia Lumia 720 belum beredar banyak di Indonesia waktu itu. Dan ketika dia pengin beli Nokia Lumia 720, si penjualnya sotoy banget bilang kalau Window 8 yang diusung perangkat itu susah digunakan, apalagi untuk ukuran Tulang gue yang gaptek bin norak. Alhasil, dia pun mengurungkan niatnya membeli Lumia 720.

“Samsung S3 mini bagus kok, Lang. Mirip-mirip hapeku lah, tapi lebih keren dikit” jawab gue jujur.

“Oh, OKE. Kalau Samsung Grand?” tanyanya lagi.

Ini kenapa nyangkut-nyangkut ke Samsung Grand segala sih? Udah jelas-jelas Samsung Grand itu diluar rencana. Gak sesuai budget dan anggaran. Dapat darimana dia info tentang keberadaan Samsung Grand? Ada yang salah ini.

“Samsung Grand buat apa, Lang? Ukurannya aja kegedean. Tulang mau ganjal pintu pake Samsung Grand? Lagian Tulang hanya perlu telpon dan sms kan? Gak perlu lah. Ambil Nokia Lumia itu aja atau Samsung S3 mini tadi” gue mengingatkan dia bahwa dia gak perlu hape yang keren untuk saat ini. Toh dia gak bisa ngetik SMS di hape Nokia dia yang jadul.

“OK” katanya singkat dan padat.

Gue pun tenang dan melanjutkan tidur. Benar-benar seperti kerbau.

Menjelang sore, Tulang dan Nantulang gue balik bawa bungkusan plastik putih. Loh kok isinya kayak kotak makanan? Eh, ternyata iya. Mereka bawain gue makanan. Tau aja nih gue belon makan dari pagi.

Setelah itu mereka langsung keluarin belanjaan mereka. Gue yang udah ngarep bakal maenin hape dengan OS Windows 8 langsung kecewa setelah ngelihat box hape yang dibeli: Samsung Grand.

Gue sedih. Harapan gue gak kesampean.

“Loh, kok jadi beli Samsung Grand, Lang?”

“Biar sekalian gede. Biar gak susah baca tulisannya. Kalau hapenya lebih gede tulisannya kan bisa lebih gede” jawab Tulang gue bangga.

Aduh, ini salah banget deh motivasinya beli hape. Kalau mau lihat tulisan yang gede gak harus di hape yang gede juga kan? Di hape kayak punya gue juga bisa, tinggal atur font size nya aja.

Tapi ya sudahlah. Udah terlanjur. Ini pasti dia diiming-imingi ama penjual hape di Roxy. Tau aja kalau Tulang gue gak ngerti tentang hape, disuruh beli apa aja mau. Padahal waktu diskusi di rumah, dia kekeuh banget sampe ngukur dimensi hape pake penggaris segala

*sigh*

Gue bongkar bungkusan belanjaan dia yang lain.

Apa ini? Power Bank? Untuk apa? Gue aja yang sering travelling ke gunung 4 hari belon mikir untuk beli Power Bank.

Apa lagi ini? Jam tangan MITO yang ada kameranya? Untuk apaaaaa??

“Power Bank untuk apa , Lang?” tanya gue heran.

“Biar gak usah ngecas ngecas lagi. Katanya hape ginian batrenya cepat habis. Kalau ada Power Bank kan gak perlu takut kalau batrenya habis” dia menjelaskan dengan percaya diri. Sepertinya dia sudah menghapal alasan itu dari perkataan si penjual power bank tadi.

Ini salah banget. Udah jelas dia gak pernah kemana-mana. Hanya di rumah aja. Kalau baterainya habis kan bisa di cas pake charger bawaan!!

“Terus, jam tangan MITO ini untuk apa?” tanya gue, masih keheranan.

“Itu jam bagus loh. Ada kameranya. Bisa untuk telpon juga. Tulang baru tau kalau ada jam tangan seperti itu. Kayak di pilem-pilem aja. Makanya Tulang beli”

Muahahaha. Gue hanya bisa ketawa dengarin penjelasan Tulang gue. Gak masuk akal banget sih, beli jam tangan hanya karena keren, padahal toh juga gak dipake. Mending dikasih ama gue.

Yasudahlah, mending juga gue makan pansit goreng yang mereka bawa tadi.

--

Salah banget gue gak ikut nemenin Tulang gue beli hape!!

12/11/13

ukuran hape yang bermasalah

Hape Tulang gue belakangan udah menunjukkan tanda-tanda rusak. Setiap kali ditelpon, pasti gak pernah nyambung, padahal saat itu kondisinya lagi menyala dan dapet sinyal

Karena hapenya yang bermasalah itu, gue jadi repot.

Loh, kok?

Soalnya, anak-anak Tulang gue jadi nelpon ke gue. Gitu diangkat, mereka bilang “Bang, ada papa gak? Tolong kasihin ke papa dong!!” Gue kan jadi sebel.

Selama ini hape gua gak pernah ada yang nelpon. Gue aja sampai lupa apa nada dering hape gue karena udah lamaaa banget gak berdering. Kemaren ada telpon masuk, gue senang. Akhirnya di Indonesia ini ada juga yang tau kalau gue punya hape, dan nelpon gue. Itu pikiran gue. Tapi pas telponnya gue angkat, si penelepon bukan nyariin gue, tapi nyari Tulang gue. Ya, selama seminggu kemaren kerjaan gue dirumah ya itu, jadi mesin penjawab telepon. Setiap hape gue berdering, gue langsung menghadap ke Tulang gue sambil bilang, “Tulang, ada telepon.” Sedih!

Maaf, mendadak curhat.

Jadi Tulang gue memutuskan untuk membeli hape baru untuk menggantikan hape Nokia 3230-nya yang udah uzur. Gue gak tau dia dapet informasi darimana, tapi dia suka banget sama Nokia. Sampai suatu malam, ketika gue baru pulang kerja, dia nunjukkin beberapa brosur hape Nokia keluaran terbaru. Ada beberapa brosur Nokia (Lumia 720, Lumia 710, Asha, dll.), sepertinya dia sudah bertekad untuk membeli salah satu dari hape tersebut.

Baguslah, berarti gue gak perlu jadi operator telepon lagi.

“Ternyata hape Nokia sekarang udah pada layar sentuh semua ya” kata Tulang gue disela-sela acara nonton TV malam itu.

Gue yang waktu itu gak tau arah pembicaraan, hanya bisa jawab, “Iya, Lang. Yang pake keypad sekarang udah gak laku lagi.”

“Udah gitu sekarang bentuknya besar-besar lagi. Udah seperti punyamu semua” katanya sambil menunjuk hape gue, Samsung Gal S Advance.

Gue cuek aja diejekin kayak gitu, udah biasa.

“Lihat ini…” katanya sambil menunjukkan brosur Nokia Lumia 720. “Layarnya besar, 4.3 inchi. Lebih besar mana dibandingkan punyamu?”

“Ya lebih besar itu lah, Lang. Punyaku hanya 4 inchi” sahut gue seadanya.

“Berarti lebih bagus Nokia ya?! Emang dari dulu Nokia itu lebih bagus sih” ucapnya sombong.

“Errr…” gue langsung kesal dengan generalisasi yang dia buat.

Emang kalau layarnya lebih gede, pasti lebih bagus ya? Mungkin kalau hape gue dibandingin ama Nokia Lumia 720 memang lebih bagus Nokia Lumia itu, karena memang lebih mahal. Mungkin loh ya. Tapi kalau dibandingin ama Mito atau Lenovo yang layarnya segede daun pintu, masih lebih bagus hape gue lah. Oke, ini rasis.

Intinya, besarnya layar tidak menjamin segalanya.

Tapi akhirnya gue nyantai. Gue maklum, soalnya Tulang gue rada gaptek. Gak ngerti tentang hal beginian.

Gue kirain dia udah selesai dengan masalah ukuran hape tadi, ternyata tidak. Waktu gue lagi asik maenin hape setelah generalisasi tidak benar yang menjengkelkan barusan, dia ngomong lagi “Tapi kok kayaknya lebih gede BB ini ya?” katanya sambil memegang BB Bold 1 miliknya yang dia pakai hanya untuk dengerin musik Batak tanpa menggunakan fitur BBM-nya.

Gaya banget kan dia?

Karena udah mulai males, gue jawab seadanya “Gak tau sih, Lang. Tapi mungkin iya, soalnya kan BB lebar untuk tempat keypadnya. Sementara Nokia gak perlu keypad lagi, udah pake touchscreen.”

Dan dia nyambung lagi, dengan membeberkan isi brosur yang dipegangnya sama gue.

“Di brosur ditulis kalau dimensi Nokia 720 itu 127.9 x 67.5 x 9 mm. Kalau BB ini berapa ya dimensinya?”

Tulang gue pantang menyerah ternyata.

Gue diem aja, pura-pura gak dengar. Untuk apa juga ngurusin ukuran hape.

Beberapa detik berlalu tanpa ada suara.

Akhirnya Tulang gue berdiri dan pergi ke dapur. Kirain semua percakapan yang gak penting ini sudah berakhir, tidak taunya dia kembali dari dapur sambil membawa PENGGARIS ditangannya.

Gila, buat apa tuh penggaris?

Setelah mengamati, ternyata penggaris itu dipakai untuk mengukur dimensi BB tadi.

Sigh..

Dia mengambil BB itu dan mulai mengukur panjang, lebar dan ketebalannya. Semua hasil pengukurannya ditulis di secarik kertas yang ada di meja di depan kami. Setelah sibuk mengukur, dia bilang, “Ternyata benar, lebih gede BB ini”.

Gue sebenarnya udah malas ngomong, tapi gue harus memberikan respon terhadap pernyataan barusan untuk menghargai dia. “Oh, lebih gede BB ya Lang?” sahut gue seadanya tanpa memalingkan muka dari layar hape gue.

Selesai? Belum.

Tulang gue rupanya perhatian banget sama bentuk fisik dari hape yang akan dibelinya. Dia lanjut ngomong.

“Kalau dikantongi, enak gak ya?”

“….”

Dia lanjut menanyakan hal yang tidak penting lagi, “Punyamu beratnya berapa gram? Kalau Nokia Lumia ini beratnya 128 gram. Lebih berat mana sama punyamu. Terus kalau dibandingkan sama BB ini, lebih berat mana?”

“….”

Hening…

Selesai? Masih belum.

“Tapi Nokia Lumia 710 juga bagus kok. Layarnya 4 inchi beratnya blabla blabla..” sambungnya lagi.

Oh, GOD. Diskusi (gak penting) diatas akan terulang lagi!!!

Gue buru-buru masuk kamar dan kunci pintu

--

Lang, yang mahal itu fungsinya, bukan ukurannya!! Emangnya hape itu kayak daging yang itung kiloan?

11/11/13

orang kaya

Sabtu lalu gue lagi santai di ruang tengah sambil ganti-ganti channel TV. Heran ya, kenapa gak ada acara TV yang keren di hari Sabtu? Padahal kan insan kurang kerjaan kayak gue butuh hiburan. Kasih pilem luar negeri gitu kek. Kasih acara menarik gitu kek. Ini malah acara musik yang gak jelas dengan aksi cuci-cuci-jemur-jemur yang sungguh tidak menarik. 

*sigh*

Menjelang sore, Tulang gue balik ke rumah. Entah darimana dia seharian. Sementara Nantulang gue lagi ada acara arisan di tempat lain. Gue yang saat itu lagi sebel sama stasiun TV di Indonesia, cuek aja akan kedatangan Tulang gue, sambil sibuk gonta-ganti channel.

Dia duduk dibangku samping gue. Sibuk membolak-balik berkas yang dibawa dari luar tadi. Entah kertas apa aja tuh. Banyak banget.

Tiba-tiba dia nyeletuk, “Tulang butuh uang nih!”

Gue bingung. Apa maksudnya ngomong gitu?

“Hah? Buat apa, Lang?” tanya gue kebingungan.

“Tulang butuh uang 250”

“Ya tunggu gue gajian lah, Lang. Emang buat apa sih, tumben banget?” sahut gue tambah kesal. Gue pikir dia butuh uang 250 ribu. Kalau iya, nanti kalau gajian gue kasih deh, sekalian buat bayar utang gue arisan bulan lalu yang lupa gue bayar.

“OKE, 250 juta ya. Buat beli tanah Tulang.”

 (dalam hati) “Bujugile!! Emang gue punya pohon duit, bisa tiba-tiba panen uang 250 juta gitu?”

Ternyata dia baru dari kantor pajak, bayar pajak tanah. Dia punya sepetak tanah di daerah Bogor, dan harganya itu sekitar 200 jutaan lah. Dia kayaknya mau jual tanah gitu, dan dia nawarin gue.

*salah orang*

Dia kira gue orang kaya yang bisa seenaknya beli tanah. Muehehe..

Gue nyengir aja. Tiba-tiba terbayang uang di dompet tinggal cepe, pas untuk ongkos minggu ini sebelum gajian. Tragis banget hidup gue.

---

Ya ampun Lang, boro-boro beli tanah, beli celana dalam aja gue gak bisa, gak punya uang.

Note:
Tulang: Paman
Nantulang: Tante
diambil dari penuturan Suku Batak